Suroboyoan
- Tambah Sepi... cak_roy
- Curhat... cow
- salam kenal cak..:D... angelicavoc
- selamat pagi... bukan_janda
- selamat siang... henry9099
- selamat malam............ henry9099
Berita Lain
-
Selasa, 24/11/2009 09:09 WIB
Gara-gara Bola Voli
Polisi Tidak Tetapkan Tersangka Tawuran -
Selasa, 24/11/2009 08:34 WIB
2009, Pelaku Curat Anak-anak Capai 133 Orang -
Senin, 23/11/2009 22:19 WIB
Gara-gara Bola Voli, Mahasiswa STIKES Tawuran dengan Warga -
Senin, 23/11/2009 18:26 WIB
Askes Imbau RS Pemerintah Ikut Program PJKMU -
Senin, 23/11/2009 18:20 WIB
Tidur-tiduran, Tukang Becak Bablas ke Akhirat
Indeks Berita
Jumat, 06/11/2009 18:29 WIB
Belok Kiri Dilanggar, Kena Tilang Rp 500 Ribu
Rois Jajeli - detikSurabaya

Foto: Rois Jajeli
Surabaya -
Hati-hati saat berkendara dan belok kiri. Sebelum belok kiri, terlebih dahulu melihat rambu-rambu yang sudah terpasang. Jika langsung nyelonong belok ke kiri dan melanggar, Anda bisa kena tilang polisi dan didenda maksimal Rp 500 ribu.
"Ketentuan itu berlaku sesuai dengan UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang sudah disahkan pada 22 Juni 2009 lalu," kata Kasubdit Bingakkum Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jatim AKBP Yusuf kepada wartawan di mapolda, Jalan Ahmad Yani Surabaya, Jumat (6/11/2009).
Yusuf mengatakan, dalam UU yang baru disahkan itu semua pengendara tidak boleh langsung belok ke kiri. Berdasarkan pasal 112 ayat 3 UU No 22 tahun 2009 menerangkan, di persimpangan jalan yang dilengkapi alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas.
"Memang dulu sebelum disahkan undang-undang ini, pengemudi bisa belok kiri langsung. Tapi setelah disahkan UU No 22 Tahun 2009 ini, pengemudi boleh belok kiri sesuai ditentukan oleh rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas seperti belok kiri langsung," terangnya.
Berdasarkan pasal 287 ayat (2) jo pasal 106 ayat (4) huruf c, menerangkan, bahwa pengemudi yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan alat pemberi isyarat lalu lintas, dapat dikenakan denda maskimal Rp 500 ribu.
Sementara Santi salah satu warga yang tinggal di Surabaya mengaku setuju dengan peraturan baru itu. Alasannya agar meminimlisir angka kecelakaan.
"Biasanya kan pengendara langsung nyelonong belok kiri. Dia tidak memperhatikan rambu dan nyelonong saja. Akibatnya, pengendara lainnya kaget dan bisa saja terjadi kecelakaan," ujar Santi kepada detiksurabaya.com di kawasan Semolowaru.
Saat ditanya lebih lanjut, tentang denda yang dikenakan bagi pengemudi yang melanggar sebesar Rp 500 ribu, Santi tetap mendukungnya.
"Ya lebih baik mengeluarkan biaya kecil dari pada kecelakaan, kan biayanya lebih besar. Belum untuk biaya perawatan dirinya atau orang lain, maupun perawatan kendaraan yang tabrakan," tutur karyawan swasta di Surabaya.
Sementara Althof warga Jambangan mengaku tidak setuju dengan aturan UU LLAJ yang baru disahkan, seperti belok kiri langsung.
"Sekarang belok kiri kan nggak ada efek. Karena kendaraannya kan searah. Kecuali kalau mau lurus, itu harus mengikuti lampu trafficlight," ujar Altof.
Ketika ditanya tentang denda yang dikenakan sebesar Rp 500 ribu jika melanggar rambu lalu lintas, Althof tidak menyetujuinya.
"Walah kok besar. Ekonomi warga saat ini kan belum mapan. Kebanyakan warga yang melanggar itu pengendara sepeda motor. Saya saja sepeda motor kredit. Buat bayar cicilan kredit saja sudah berat, apalagi buat bayar denda. Kalau uang cicilan buat bayar denda, bisa-bisa saya dikejar-kejar dept collector," ujar karyawan swasta di Surabaya.
(roi/fat)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Belok Kiri Dilanggar, Kena Tilang Rp 500 Ribu
Rois Jajeli - detikSurabaya

Foto: Rois Jajeli
"Ketentuan itu berlaku sesuai dengan UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang sudah disahkan pada 22 Juni 2009 lalu," kata Kasubdit Bingakkum Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jatim AKBP Yusuf kepada wartawan di mapolda, Jalan Ahmad Yani Surabaya, Jumat (6/11/2009).
Yusuf mengatakan, dalam UU yang baru disahkan itu semua pengendara tidak boleh langsung belok ke kiri. Berdasarkan pasal 112 ayat 3 UU No 22 tahun 2009 menerangkan, di persimpangan jalan yang dilengkapi alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas.
"Memang dulu sebelum disahkan undang-undang ini, pengemudi bisa belok kiri langsung. Tapi setelah disahkan UU No 22 Tahun 2009 ini, pengemudi boleh belok kiri sesuai ditentukan oleh rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas seperti belok kiri langsung," terangnya.
Berdasarkan pasal 287 ayat (2) jo pasal 106 ayat (4) huruf c, menerangkan, bahwa pengemudi yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan alat pemberi isyarat lalu lintas, dapat dikenakan denda maskimal Rp 500 ribu.
Sementara Santi salah satu warga yang tinggal di Surabaya mengaku setuju dengan peraturan baru itu. Alasannya agar meminimlisir angka kecelakaan.
"Biasanya kan pengendara langsung nyelonong belok kiri. Dia tidak memperhatikan rambu dan nyelonong saja. Akibatnya, pengendara lainnya kaget dan bisa saja terjadi kecelakaan," ujar Santi kepada detiksurabaya.com di kawasan Semolowaru.
Saat ditanya lebih lanjut, tentang denda yang dikenakan bagi pengemudi yang melanggar sebesar Rp 500 ribu, Santi tetap mendukungnya.
"Ya lebih baik mengeluarkan biaya kecil dari pada kecelakaan, kan biayanya lebih besar. Belum untuk biaya perawatan dirinya atau orang lain, maupun perawatan kendaraan yang tabrakan," tutur karyawan swasta di Surabaya.
Sementara Althof warga Jambangan mengaku tidak setuju dengan aturan UU LLAJ yang baru disahkan, seperti belok kiri langsung.
"Sekarang belok kiri kan nggak ada efek. Karena kendaraannya kan searah. Kecuali kalau mau lurus, itu harus mengikuti lampu trafficlight," ujar Altof.
Ketika ditanya tentang denda yang dikenakan sebesar Rp 500 ribu jika melanggar rambu lalu lintas, Althof tidak menyetujuinya.
"Walah kok besar. Ekonomi warga saat ini kan belum mapan. Kebanyakan warga yang melanggar itu pengendara sepeda motor. Saya saja sepeda motor kredit. Buat bayar cicilan kredit saja sudah berat, apalagi buat bayar denda. Kalau uang cicilan buat bayar denda, bisa-bisa saya dikejar-kejar dept collector," ujar karyawan swasta di Surabaya.
(roi/fat)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca juga :
- Atur Lalu Lintas, Seorang Polisi Terserempet Truk
- Bus Rombongan Haji Vs Truk
Korban Luka Diberangkatkan dengan Kloter 36 - Ban Meletus, Truk Muta Batu Bara Terguling di KM 23
- Perbaikan Belum Tuntas, Waspadai Jalan Biliton
Iklan Mini
Motor:GL MAX Neotex'96Lengkap Orsinil=5,6jt Nego Bratang Wetan 4/16A(081357292215)
Motor:MTR GEROBAK TERMURAH Cash/Kredit Bisa Grosir Ngagel Rejo Kidul 44 T03177852555
HP:"OC"03170232455;n97gX3mg(45)w980igbsb(17) 6500sg(1350)3660l/3650l(350/325)6600l(450)
Mobil:MANNA MOBIL KERTAJAYA 210 0315011571 H.STREAM 1.7 Manual'05(L)TgI Slv F.OrsCat
HP:Ciliwung 64 T.03170573369New100%PhilipsBat Standby 1Bulan2mp Bluetooth RadioMmc1Gb(8) PhilipsSpecialEditionDragon&Phoenix(11)tt
Selengkapnya
DETIKSURABAYA.COM
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com





