Suroboyoan
- Detiker berbagi untuk Pen... wongsemprul
- ANDA MENGALAMI EJEKULASI ... kangpendi41
- Free...!!! 10 Tips Langsi... merlion
- [Khusus] Kenalan... henry9099
- selamat pagi... bukan_janda
- selamat siang... henry9099
Berita Lain
-
Selasa, 09/02/2010 18:03 WIB
Sempat Disandera, Bayi Meninggal di RS Dibawa Pulang -
Selasa, 09/02/2010 16:34 WIB
Peneliti Australia Teliti Hiu Tutul di Probolinggo -
Selasa, 09/02/2010 16:22 WIB
Nelayan Madura Tangkap Dua Kapal Pukat Harimau -
Selasa, 09/02/2010 15:47 WIB
Suporter Persik Kediri Tawuran, 1 Orang Kritis -
Selasa, 09/02/2010 15:23 WIB
Wartawan di Banyuwangi Jadi Korban Perampokan
Indeks Berita
Jumat, 06/11/2009 18:18 WIB
Penjualan Ayam Tiren Marak di Tulungagung
Samsul Hadi - detikSurabaya
Tulungagung -
Penjualan daging bangkai ayam atau biasa disebut tiren, diduga marak Tulungagung. Modusnya, penjual menjajakan daging dagangannya dengan ditusuk pada bagian leher, seolah-olah daging siap bakar.
Dugaan maraknya peredaran daging bangkai ayam diungkapkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) cabang Tulungagung, yang mengaku mengetahuinya berdasarkan laporan masyarakat.
"Sampai hari ini masih ada laporan tentang peredaran daging tiren itu ke kami dan temuan kami sendiri di lapangan juga menunjukkan adanya kebenaran atas laporan itu," kata Sekretaris MUI Kabupaten Tulungagung Abu Sofyan Sirodjudin kepada wartawan di kantornya, Jumat (6/11/2009).
Dalam prakteknya pedagang daging bangkai ayam tidak menjadikan konsumen kelas kecil sebagai sasarannya. Mereka menjadikan pedagang berbahan dasar ayam sebagai pelanggannya.
Indikasinya, daging bangkai ayam dijual dengan harga lebih murah dari harga normal di pasaran, sehingga dengan mudah mengundang pembeli dalam jumlah besar.
"Pembeli-pembeli itu kan mengolahnya jadi masakan dan menjualnya lagi biasanya ada di trotoar-trotoar. Disini konsumen umum atau masyarakat yang mengkonsumsi tidak tahu kalau makanan yang dimakannya adalah daging tiren," ungkap Siroj sapaan akrabnya.
Peredaran bangkai ayam itu tersebar di 33 pasar tradisional di 18 kecamatan di Tulungagung. "Operasionalnya biasanya jam 1-4 pagi. Itu dilakukan untuk menghindari pengawasan petugas dan menyamarkan daging yang dijual," tuturnya.
Atas laporan yang diterimanya, MUI Tulungagung diakui Siroj,sudah berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk aparat kepolisian untuk secepatnya menggelar razia.
"Dasarnya tentu saja tidak sebatas aturan agama yang jelas mengharamkannya, tapi ayam tiren juga kami khawatirkan mengandung penyakit," jelasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Peternakan Tulungagung, Subarjo membenarkan peredaran daging ayam tiren. Langkah inspeksi mendadak atau sidak diakuinya telah disiapkan untuk dilakukan.
"Tentunya kami tidak bisa sendiri, dan untuk itu koordinasi sudah kamilakukan. Dalam waktu dekat pokoknya akan kami gelar sidak," tandas Subarjo.
(wln/wln)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Penjualan Ayam Tiren Marak di Tulungagung
Samsul Hadi - detikSurabaya
Penjualan daging bangkai ayam atau biasa disebut tiren, diduga marak Tulungagung. Modusnya, penjual menjajakan daging dagangannya dengan ditusuk pada bagian leher, seolah-olah daging siap bakar.Dugaan maraknya peredaran daging bangkai ayam diungkapkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) cabang Tulungagung, yang mengaku mengetahuinya berdasarkan laporan masyarakat.
"Sampai hari ini masih ada laporan tentang peredaran daging tiren itu ke kami dan temuan kami sendiri di lapangan juga menunjukkan adanya kebenaran atas laporan itu," kata Sekretaris MUI Kabupaten Tulungagung Abu Sofyan Sirodjudin kepada wartawan di kantornya, Jumat (6/11/2009).
Dalam prakteknya pedagang daging bangkai ayam tidak menjadikan konsumen kelas kecil sebagai sasarannya. Mereka menjadikan pedagang berbahan dasar ayam sebagai pelanggannya.
Indikasinya, daging bangkai ayam dijual dengan harga lebih murah dari harga normal di pasaran, sehingga dengan mudah mengundang pembeli dalam jumlah besar.
"Pembeli-pembeli itu kan mengolahnya jadi masakan dan menjualnya lagi biasanya ada di trotoar-trotoar. Disini konsumen umum atau masyarakat yang mengkonsumsi tidak tahu kalau makanan yang dimakannya adalah daging tiren," ungkap Siroj sapaan akrabnya.
Peredaran bangkai ayam itu tersebar di 33 pasar tradisional di 18 kecamatan di Tulungagung. "Operasionalnya biasanya jam 1-4 pagi. Itu dilakukan untuk menghindari pengawasan petugas dan menyamarkan daging yang dijual," tuturnya.
Atas laporan yang diterimanya, MUI Tulungagung diakui Siroj,sudah berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk aparat kepolisian untuk secepatnya menggelar razia.
"Dasarnya tentu saja tidak sebatas aturan agama yang jelas mengharamkannya, tapi ayam tiren juga kami khawatirkan mengandung penyakit," jelasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Peternakan Tulungagung, Subarjo membenarkan peredaran daging ayam tiren. Langkah inspeksi mendadak atau sidak diakuinya telah disiapkan untuk dilakukan.
"Tentunya kami tidak bisa sendiri, dan untuk itu koordinasi sudah kamilakukan. Dalam waktu dekat pokoknya akan kami gelar sidak," tandas Subarjo.
(wln/wln)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar)
Belum ada komentar yang masuk
Baca juga :
- Antisipasi Daging Gelonggong, Pemkab Pacitan Gelar Razia
- Razia Pasar, Petugas Temukan Daging Busuk dan Bercacing Pita
- Disperta Mojokerto Razia Daging Gelonggong
- 15 Kg Daging Tak Layak Konsumsi Ditemukan di Kediri
DETIKSURABAYA.COM
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com


