Suroboyoan
- Slm bwt detikers smua dh ... atiqfitro
- Tambah Sepi... cak_roy
- Curhat... cow
- selamat pagi... bukan_janda
- selamat siang... henry9099
- selamat malam............ henry9099
Berita Lain
-
Rabu, 25/11/2009 14:04 WIB
8 Orang Pelanggar Perda Anti Rokok Diproses ke Pengadilan -
Rabu, 25/11/2009 13:51 WIB
Pemkot Minta Warga Menginternalisasi Perda Anti Rokok -
Rabu, 25/11/2009 13:25 WIB
Masih Banyak Sopir Tidak Paham Perda Anti Rokok -
Rabu, 25/11/2009 12:56 WIB
Sanksi Tidak Jelas, Penerapan Perda Anti Rokok Diacuhkan -
Rabu, 25/11/2009 12:52 WIB
Bayi Usia 1 Bulan Tewas
2,5 Tahun Menikah, Nanang Kerap Hajar Istri
Indeks Berita
Senin, 14/09/2009 09:22 WIB
Kisah Klenteng Boen Bio Dibangun Uang Belanda
Steven Lenakoly - detikSurabaya

Klenteng Boen Bio Surabaya/Steven Lenakoly
Surabaya -
Tiap tempat ibadah selalu memiliki sejarahnya masing-masing, tak terkecuali Klenteng Boen Bio. Klenteng di Jalan Kapasan ini memiliki cerita lintas generasi yang cukup unik. Karena dibangun hasil pemboikotan pedagang China terhadap kekuasaan Hindia Belanda.
Klenteng Boen Bio semula didirikan pada tahun 1883 di Jalan Kapasan Semula bernama Boen Tjiang Soe (Wen Ch'ang Szu). Frasa ini memiliki tiap arti yang berbeda Boen (Wen) berarti kesusastraan atau peradaban kemudian Tjiang (Ch'ang) artinya menggembilangkan dan Soe (Szu) artinya mewarisi.
"Sehingga bila digabungkan artinya adalah mewarisi dan menggembilangkan kesusastraan," kata Rohaniwan Klenteng Boen Bio, Kwee Ping Hwie saat ditemui detiksurabaya.com di Klenteng Boen Bio, Jalan Kapasan 131, Senin (14/9/2009).
Menurut buku Boen Bio: Benteng Pertahanan Terakhir Umat Khonghucu karya Sinta Devi ISR, pembangunan klenteng ini merupakan insiatif dari Go Tik Lie dan Lo Toen Siong yang menggelar rapat dengan Mayor The Boen Ke pada tahun 1882. Hasil perundingan itu disepakati pembangunan klenteng di atas tanah seluas 500 meter persegi. Sesaat sesudah kesepakatan itu, pembangunan klenteng mulai berlangsung dengan mendatangkan pekerja dan bahan dari China.
Kwee menceritakan, keinginan pembangunan klenteng karena di sekitar Jalan Kapasan masih belum ada tempat peribadatan dan sebagaian besar daerah jalan ini masih ditumbuhi oleh pohon randu (Kapasan). Pada akhir tahun 1800, daerah Jalan Kapasan, Jalan Karet, Jalan Coklat, Jalan Kembang Jepun hingga Jalan Slompretan merupakan kawasan perdagangan yang terkenal dengan sebutan segitiga emas pecinan.
Di Kawasan tersebut perdagangan dikuasai oleh orang China yang mengadu nasib di kota ini. Kawasan itu disukai karena berdekatan dengan transportasi air melalui Kalimas yang pada era itu masih digunakan sebagai alat perdagangan utama barang-barang yang masuk melalui Pelabuhan Kalimas atau pun yang akan keluar menuju ke daerah lain.
Pembangunan Klenteng Boen Bio memakan biaya f.11.316.63 yang didapatkan dari hasil urunan para pedagang. Klenteng ini selesai dibangun pada tahun 1883 atau setahun kemudian. "Arsitekturnya sama dengan arsitektur khas China," ucap Kwee.
Waktu terus bergulir hingga pada tahun 1902 yakni saat munculnya gerakan nasionalisme dan anti penjajahan Belanda. Sikap ini muncul setelah pedagang Belanda yang tergabung dalam Handels Vereeniging Amsterdam (HVA) mulai menekan pedagang China hingga perekonomian jadi hancur.
Puncaknya 80 saudagar China yang dipimpin oleh Tjo Sik Giok dan Tjo Tjie An bermusyawarah dan sepakat untuk menghentikan segala transaksi pedagangan dengan himpunan pedagang tersebut. Boikot ini tentu saja membuat perdagangan di Surabaya jadi goyah mengingat sebagian besar perdagangan dikuasai oleh pedagang China.
Boikot itu membuat HVA meminta tolong kepada bank, salah satunya Javasche Bank agar menghentikan boikot tersebut. Beberapa bank mengirim surat kepada pemboikot untuk menghentikan boikot dengan ancaman tidak akan memberikan surat hutang kepada pedagang.
Ancaman itu diacuhkan oleh pemboikot hingga HVA meminta tolong kepada Asisten Resident Surabaya untuk menghentikan boikot. Usaha ini juga gagal dan pedagang China masih tetap melakukan boikot tersebut.
HVA kehabisan ide dan memanggil pengacara untuk memperkarakan perhimpunan saudagar China di pengadilan. Sayang, proses pengadilan itu memenangkan pihak saudagar China dan HVA diharuskan membayar denda sebesar f.25.000 atau sekitar Rp 18 miliar untuk membangun sekolah bagi anak-anak Tionghoa.
Pada tahun 1904 K'ang Yu Wei datang ke Surabaya. Menurut The Origins of The Modern Chinese Movement In Indonesia karya Kwee Tek Hoay, pada bulan Juni tahun 1898 K'ang memberi usul pada Kaisar Kuang Hs untuk menggalakkan pendidikan untuk mengatasi kebobrokan di negerinya.
Melalui pendidikan, dia juga mengusulkan kepada pengadilan kerajaan agar ajaran Khonghucu diajarkan kembali. Ia juga meminta agar kuil-kuil yang tidak sah diganti menjadi tempat memberikan ajaran Khonghucu. Selain itu ia juga meminta untuk mengirim misionaris menyebarkan agama Khonghucu ke seluruh dunia.
Dalam kunjungan ke Surabaya itu, K'ang juga berkunjung ke Klenteng Boen Bio dan terkesan dengan bangunan tempat ibadah ini serta mengusulkan agar klenteng itu dipindahkan lebih keluar dan menghadap ke jalan raya dari keberadaan semula di dalam perkampungan.
Usulan ini kemudian ditindaklanjuti dengan rapat dengan Mayor The Toan Ing. Mayor The Toang Ing. Dia seorang tuan tanah yang memiliki banyak tanah di sekitar kawasan segitiga emas dan hingga kini rumahnya di Jalan Karet nomor 50 masih kokoh berdiri. Ia pun sepakat untuk memberikan 6 petak tanah di Jalan Kapasan 131.
Saat itu di 6 petak sudah berdiri rumah namun penghuni rumah itu mau rumahnya dibongkar untuk dibuat tempat peribadatan. "Enam petak rumah itu dibongkar dan diatasnya kemudian dibangun Klenteng Boen Bio," tutur Kwee.
Uang pembangunan Klenteng Boen Bio ini didapatkan dari uang hasil pemenangan pengadilan dengan pihak HVA sebesar f.25.000 atau sekitar Rp 18 miliar serta tambahan dari sumbangan pedagang kaya hingga terkumpul f.29.972.51 atau sekitar Rp 25 miliar. Untuk mengenang jasa pedagang itu, nama penyumbang pun diukir dan ditempelkan di dinding klenteng.
Klenteng dibangun pada tahun 1906 dan diresmikan pada tahun 1907. Sedangkan bekas klenteng didirikan sekolah Tiong Hoa Hak Hauw. "Jadi secara tidak langsung klenteng ini dibangun oleh Belanda," ucapnya. (stv/fat)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Kisah Klenteng Boen Bio Dibangun Uang Belanda
Steven Lenakoly - detikSurabaya

Klenteng Boen Bio Surabaya/Steven Lenakoly
Klenteng Boen Bio semula didirikan pada tahun 1883 di Jalan Kapasan Semula bernama Boen Tjiang Soe (Wen Ch'ang Szu). Frasa ini memiliki tiap arti yang berbeda Boen (Wen) berarti kesusastraan atau peradaban kemudian Tjiang (Ch'ang) artinya menggembilangkan dan Soe (Szu) artinya mewarisi.
"Sehingga bila digabungkan artinya adalah mewarisi dan menggembilangkan kesusastraan," kata Rohaniwan Klenteng Boen Bio, Kwee Ping Hwie saat ditemui detiksurabaya.com di Klenteng Boen Bio, Jalan Kapasan 131, Senin (14/9/2009).
Menurut buku Boen Bio: Benteng Pertahanan Terakhir Umat Khonghucu karya Sinta Devi ISR, pembangunan klenteng ini merupakan insiatif dari Go Tik Lie dan Lo Toen Siong yang menggelar rapat dengan Mayor The Boen Ke pada tahun 1882. Hasil perundingan itu disepakati pembangunan klenteng di atas tanah seluas 500 meter persegi. Sesaat sesudah kesepakatan itu, pembangunan klenteng mulai berlangsung dengan mendatangkan pekerja dan bahan dari China.
Kwee menceritakan, keinginan pembangunan klenteng karena di sekitar Jalan Kapasan masih belum ada tempat peribadatan dan sebagaian besar daerah jalan ini masih ditumbuhi oleh pohon randu (Kapasan). Pada akhir tahun 1800, daerah Jalan Kapasan, Jalan Karet, Jalan Coklat, Jalan Kembang Jepun hingga Jalan Slompretan merupakan kawasan perdagangan yang terkenal dengan sebutan segitiga emas pecinan.
Di Kawasan tersebut perdagangan dikuasai oleh orang China yang mengadu nasib di kota ini. Kawasan itu disukai karena berdekatan dengan transportasi air melalui Kalimas yang pada era itu masih digunakan sebagai alat perdagangan utama barang-barang yang masuk melalui Pelabuhan Kalimas atau pun yang akan keluar menuju ke daerah lain.
Pembangunan Klenteng Boen Bio memakan biaya f.11.316.63 yang didapatkan dari hasil urunan para pedagang. Klenteng ini selesai dibangun pada tahun 1883 atau setahun kemudian. "Arsitekturnya sama dengan arsitektur khas China," ucap Kwee.
Waktu terus bergulir hingga pada tahun 1902 yakni saat munculnya gerakan nasionalisme dan anti penjajahan Belanda. Sikap ini muncul setelah pedagang Belanda yang tergabung dalam Handels Vereeniging Amsterdam (HVA) mulai menekan pedagang China hingga perekonomian jadi hancur.
Puncaknya 80 saudagar China yang dipimpin oleh Tjo Sik Giok dan Tjo Tjie An bermusyawarah dan sepakat untuk menghentikan segala transaksi pedagangan dengan himpunan pedagang tersebut. Boikot ini tentu saja membuat perdagangan di Surabaya jadi goyah mengingat sebagian besar perdagangan dikuasai oleh pedagang China.
Boikot itu membuat HVA meminta tolong kepada bank, salah satunya Javasche Bank agar menghentikan boikot tersebut. Beberapa bank mengirim surat kepada pemboikot untuk menghentikan boikot dengan ancaman tidak akan memberikan surat hutang kepada pedagang.
Ancaman itu diacuhkan oleh pemboikot hingga HVA meminta tolong kepada Asisten Resident Surabaya untuk menghentikan boikot. Usaha ini juga gagal dan pedagang China masih tetap melakukan boikot tersebut.
HVA kehabisan ide dan memanggil pengacara untuk memperkarakan perhimpunan saudagar China di pengadilan. Sayang, proses pengadilan itu memenangkan pihak saudagar China dan HVA diharuskan membayar denda sebesar f.25.000 atau sekitar Rp 18 miliar untuk membangun sekolah bagi anak-anak Tionghoa.
Pada tahun 1904 K'ang Yu Wei datang ke Surabaya. Menurut The Origins of The Modern Chinese Movement In Indonesia karya Kwee Tek Hoay, pada bulan Juni tahun 1898 K'ang memberi usul pada Kaisar Kuang Hs untuk menggalakkan pendidikan untuk mengatasi kebobrokan di negerinya.
Melalui pendidikan, dia juga mengusulkan kepada pengadilan kerajaan agar ajaran Khonghucu diajarkan kembali. Ia juga meminta agar kuil-kuil yang tidak sah diganti menjadi tempat memberikan ajaran Khonghucu. Selain itu ia juga meminta untuk mengirim misionaris menyebarkan agama Khonghucu ke seluruh dunia.
Dalam kunjungan ke Surabaya itu, K'ang juga berkunjung ke Klenteng Boen Bio dan terkesan dengan bangunan tempat ibadah ini serta mengusulkan agar klenteng itu dipindahkan lebih keluar dan menghadap ke jalan raya dari keberadaan semula di dalam perkampungan.
Usulan ini kemudian ditindaklanjuti dengan rapat dengan Mayor The Toan Ing. Mayor The Toang Ing. Dia seorang tuan tanah yang memiliki banyak tanah di sekitar kawasan segitiga emas dan hingga kini rumahnya di Jalan Karet nomor 50 masih kokoh berdiri. Ia pun sepakat untuk memberikan 6 petak tanah di Jalan Kapasan 131.
Saat itu di 6 petak sudah berdiri rumah namun penghuni rumah itu mau rumahnya dibongkar untuk dibuat tempat peribadatan. "Enam petak rumah itu dibongkar dan diatasnya kemudian dibangun Klenteng Boen Bio," tutur Kwee.
Uang pembangunan Klenteng Boen Bio ini didapatkan dari uang hasil pemenangan pengadilan dengan pihak HVA sebesar f.25.000 atau sekitar Rp 18 miliar serta tambahan dari sumbangan pedagang kaya hingga terkumpul f.29.972.51 atau sekitar Rp 25 miliar. Untuk mengenang jasa pedagang itu, nama penyumbang pun diukir dan ditempelkan di dinding klenteng.
Klenteng dibangun pada tahun 1906 dan diresmikan pada tahun 1907. Sedangkan bekas klenteng didirikan sekolah Tiong Hoa Hak Hauw. "Jadi secara tidak langsung klenteng ini dibangun oleh Belanda," ucapnya. (stv/fat)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (1 Komentar)
Baca juga :
Iklan Mini
Lowongan:DCR Karyawati Dibid.Fashion Dom.Ps.Atum Krm Lmr Ps.Atum ThpI Lt1-1165T H:0315025718
DNA:DNA Genteng Besar18 03170973237newGemini/5800/6300?bks99%e90fs(35)bb8900bsbfs(32/28)n86gX2mg(37)omnia/e71gbsb(25)e51(13)n95/n81/5610/6500c/s/s8300/BB8310/BB8700
Makanan:Angela Salad Buah Istimewa dan Pastel Goreng Istimewa Buktikan T.(031)5996429/77803380
Motor:V-IXION'09 TGN.I ABU2 SPT BARU (19jt) Rungkut Kidul Raya 22 T.081330040500 nego
AC:FRESH COOL Pusatnya Service AC Cleaning3Gratis1(25rb)Freon(75rb)Bgkr+Psg(100) Terjamin+Bergaransi+Puas T.0318720699
Selengkapnya
DETIKSURABAYA.COM
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com




