Suroboyoan
- Detiker berbagi untuk Pen... wongsemprul
- ANDA MENGALAMI EJEKULASI ... kangpendi41
- Free...!!! 10 Tips Langsi... merlion
- [Khusus] Kenalan... henry9099
- selamat pagi... bukan_janda
- selamat siang... henry9099
Berita Lain
-
Selasa, 09/02/2010 18:03 WIB
Sempat Disandera, Bayi Meninggal di RS Dibawa Pulang -
Selasa, 09/02/2010 16:34 WIB
Peneliti Australia Teliti Hiu Tutul di Probolinggo -
Selasa, 09/02/2010 16:22 WIB
Nelayan Madura Tangkap Dua Kapal Pukat Harimau -
Selasa, 09/02/2010 15:47 WIB
Suporter Persik Kediri Tawuran, 1 Orang Kritis -
Selasa, 09/02/2010 15:23 WIB
Wartawan di Banyuwangi Jadi Korban Perampokan
Indeks Berita
Jumat, 03/07/2009 17:19 WIB
Pengusiran Penambang Oleh Warga Berakhir Bentrok
Samsul Hadi - detikSurabaya
Kediri -
Keberadaan penambang pasir mekanaik di aliran Sungai Brantas, Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, membuat warga yang tinggal di sekitarnya gerah.
Puluhan warga berusaha mengusir paksa hingga berujung terjadinya bentrokan, Jumat (3/7/2009).
Bentrokan antara warga dan penambang pasir mekanik bermula saat aksi unjuk rasa minta aktivitas penambangan dihentikan. Namun aksi itu tidak mendapat tanggapan. Malah sejumlah penambang justru meninggalkan lokasi kerjanya dan tetap membiarkan mesin diesel pengeruk pasir tetap hidup.
Kondisi tersebut membuat warga marah dan berusaha memutus rantai pengikat diesel dan dihanyutkan bersama aliran sungai. Hal ini memancing kemarahan sejumlah penambang pasir dan berusaha memberi perlawanan, hingga aksi saling lempar batu dan adu mulut tak dapat dihindarkan.
Beruntung hal tersebut secepatnya dilerai oleh perwakilan masing-masing pihak, dengan keputusan akhir penambang pasir dipaksa mengalah dengan menarik diesel pengeruk pasirnya.
Keterangan yang berhasil dihimpun dari sejumlah warga menyebutkan, kemarahan warga memuncak setelah sekian kali dilakukan pembicaraan baik-baik tidak dicapai kata sepakat. Terlebih, akibat keberadaan tambang pasir mekanik tersebut sejumlah kerusakan telah terjadi.
"Sampeyan bisa lihat sendiri, tadi perjalanan ke sini ada 1 rumah warga amblas dan 2 lainnya retak-retak. Coba kalau dibiarkan terus, bisa habis rumah satu kampung ini," kata Agus Prasetyo (26), salah satu warga yang ikut dalam aksi.
Selain karena alasan rusaknya rumah sejumlah warga, kemarahan juga dipicu tidak diberikannya kopensasi kerusakan sesuai dengan perjanjian.
"Pakdhe saya ini salah satu contohnya. Tanahnya tergerus ada 15 meter dan dijanjikan ganti rugi 800 ribu seminggu, tapi yang ada hanya 200 ribu yang diberikan," imbuh Agus dengan nada tinggi.
Warga masyarakat mengaku akan melakukan aksi yang lebih besar, dengan mengerahkan massa yang lebih banyak apabila aksi penambangan pasir mekanik tersebut tetap dilanjutkan.
"Pokoknya kami akan terus lanjut, karena biasanya sekali diusir besok sudah kembali lagi. Selama pemerintah tidak bisa menghentikan mereka, kami yang akan bergerak sendiri," tegas Agus.
(fat/fat)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Pengusiran Penambang Oleh Warga Berakhir Bentrok
Samsul Hadi - detikSurabaya
Puluhan warga berusaha mengusir paksa hingga berujung terjadinya bentrokan, Jumat (3/7/2009).
Bentrokan antara warga dan penambang pasir mekanik bermula saat aksi unjuk rasa minta aktivitas penambangan dihentikan. Namun aksi itu tidak mendapat tanggapan. Malah sejumlah penambang justru meninggalkan lokasi kerjanya dan tetap membiarkan mesin diesel pengeruk pasir tetap hidup.
Kondisi tersebut membuat warga marah dan berusaha memutus rantai pengikat diesel dan dihanyutkan bersama aliran sungai. Hal ini memancing kemarahan sejumlah penambang pasir dan berusaha memberi perlawanan, hingga aksi saling lempar batu dan adu mulut tak dapat dihindarkan.
Beruntung hal tersebut secepatnya dilerai oleh perwakilan masing-masing pihak, dengan keputusan akhir penambang pasir dipaksa mengalah dengan menarik diesel pengeruk pasirnya.
Keterangan yang berhasil dihimpun dari sejumlah warga menyebutkan, kemarahan warga memuncak setelah sekian kali dilakukan pembicaraan baik-baik tidak dicapai kata sepakat. Terlebih, akibat keberadaan tambang pasir mekanik tersebut sejumlah kerusakan telah terjadi.
"Sampeyan bisa lihat sendiri, tadi perjalanan ke sini ada 1 rumah warga amblas dan 2 lainnya retak-retak. Coba kalau dibiarkan terus, bisa habis rumah satu kampung ini," kata Agus Prasetyo (26), salah satu warga yang ikut dalam aksi.
Selain karena alasan rusaknya rumah sejumlah warga, kemarahan juga dipicu tidak diberikannya kopensasi kerusakan sesuai dengan perjanjian.
"Pakdhe saya ini salah satu contohnya. Tanahnya tergerus ada 15 meter dan dijanjikan ganti rugi 800 ribu seminggu, tapi yang ada hanya 200 ribu yang diberikan," imbuh Agus dengan nada tinggi.
Warga masyarakat mengaku akan melakukan aksi yang lebih besar, dengan mengerahkan massa yang lebih banyak apabila aksi penambangan pasir mekanik tersebut tetap dilanjutkan.
"Pokoknya kami akan terus lanjut, karena biasanya sekali diusir besok sudah kembali lagi. Selama pemerintah tidak bisa menghentikan mereka, kami yang akan bergerak sendiri," tegas Agus.
(fat/fat)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca juga :
- Penambangan Sirtu Dirazia, Mobil Kapolres Digedor Massa
- Tutup Tambang Sirtu, Petugas Gabungan Diusir Warga
DETIKSURABAYA.COM
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com


