Suroboyoan
- Seminar : CERDAS MENEMBUS... heavenhunter
- [undangan] resepsi pernik... sepung
- Spoiler Sudah bisa !... polenk_sakti
- selamat pagi... bukan_janda
- selamat siang... henry9099
- selamat malam............ henry9099
Berita Lain
-
Minggu, 08/11/2009 09:51 WIB
Mengaku Kelaparan, Seorang Pemuda Bobol Warung Nasi -
Sabtu, 07/11/2009 21:41 WIB
Dituduh Miliki Mahkluk Halus, Warga Lamongan Disumpah -
Sabtu, 07/11/2009 16:10 WIB
Berharap Hujan, Warga Sumenep Gelar Karapan Sapi -
Sabtu, 07/11/2009 15:20 WIB
Sakit Tak Kunjung Sembuh, Nenek 80 Tahun Gantung Diri -
Sabtu, 07/11/2009 14:20 WIB
Bank Primkoveri Dirampok
Polisi Temukan Sidik Jari dan Bekas Kaki di Kursi
Indeks Berita
Minggu, 11/01/2009 18:16 WIB
16 Santriwati di Ponpes Blitar Diduga Dicabuli Kiai
Samsul Hadi - detikSurabaya
Blitar -
Pencabulan kiai terhadap santrinya diduga terjadi di sebuah Pondok Pesantren (Ponpes) sekaligus panti asuhan yatim piatu berinisial RJ, di Desa Gading, Kecamatan Selopuro, Blitar. 16 santriwati diduga menjadi korban kebejatan pengasuh ponpes tersebut.
Informasi yang digali dari salah seorang sumber di sekitar lokasi menyebutkan, dugaan atas pencabulan telah dilakukan oleh SH, sebagai pengasuh ponpes dan pengelola panti asuhan anak yatim.
Dalam melakukan aksinya, SH yang akrab dipanggil Abah memulainya dengan meminta dipijit. Berawal dari pijitan, SH meminta lebih. Mulai dari mencium, meraba organ intim, hingga mengajak hubungan layaknya suami istri.
Para santriwati yang menjadi korbannya rata-rata tidak berani menolak. Karena selain ewuh pakewuh, mereka juga dijanjikan akan disekolahkan hingga jenjang yang lebih tinggi.
"Sampai saat ini ada 3 santri yang bersedia menjadi saksi, dan akan kami laporkan kejadian ini ke polisi. Untuk ke 16 korban, saat ini mereka sudah keluar dari pondok, karena sudah tidak tahan lagi," kata sumber yang enggan namanya ditulis, Minggu (11/1/2009).
Sementara, pencabulan itu terjadi sejak berdirinya pondok sekaligus panti asuhan, pertengahan tahun 1997 lalu. Kebejatan SH mencabuli santriwati diakui ang sumber menjadi rahasia umum di pondok tersebut. SH juga sudah berulang kali diingatkan, namun setelah berjanji akan menghentikan aksinya, tindakan itu tetap dilakukan.
"Saat itu pernah kami menempuh jalur kekeluargaan, dengan mengingatkan agar sadar. Tapi saat itu dia hanya janji, dan sampai sekarang laporan dari santriwati yang jadi korbannya terus ada," ujarnya.
Puncaknya, akhir tahun 2008 lalu sesama pengasuh melakukan hubungan badan di lingkungan pondok, meski keduanya tidak ada hubungan suami istri. Bahkan, salah seorang pengasuh lain yang berusaha melapor pemandangan yang dilihatnya, justru mendapat marah dan diancam akan dikeluarkan.
"Kami sudah tidak kuat dengan apa yang terjadi di sini. Beberapa pengasuh pondok sudah sepakat akan membawa kejadian ini ke jalur hukum," ungkap sang sumber yang mengaku juga pernah menjadi pengasuh di Ponpes RJ.
Secara terpisah Kapolres Blitar, AKBP Putu Jayan Danu Putra, saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, pihaknya sudah mendengar dugaan pencabulan yang dilakukan kiai terhadap santriwatinya.
Meski begitu, polisi mengaku belum dapat mengambil tindakan apapun, karena belum mendapatkan laporan atas dugaan tersebut. "Kalau nanti sudah ada laporan, kami akan segera menindaklanjutinya. Ini tentu akan menjadi prioritas penanganan, karena kejadian ini mengundang perhatian dari masyarakat luas," kata Putu.
Putu menjelaskan, atas informasi itu pihaknya sudah menerjunkan sejumlah personel untuk penyelidikan. "Selain menunggu laporan, kami juga melakukan penyelidikan untuk mengungkap kebenarannya," tegasnya. (fat/fat)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
16 Santriwati di Ponpes Blitar Diduga Dicabuli Kiai
Samsul Hadi - detikSurabaya
Informasi yang digali dari salah seorang sumber di sekitar lokasi menyebutkan, dugaan atas pencabulan telah dilakukan oleh SH, sebagai pengasuh ponpes dan pengelola panti asuhan anak yatim.
Dalam melakukan aksinya, SH yang akrab dipanggil Abah memulainya dengan meminta dipijit. Berawal dari pijitan, SH meminta lebih. Mulai dari mencium, meraba organ intim, hingga mengajak hubungan layaknya suami istri.
Para santriwati yang menjadi korbannya rata-rata tidak berani menolak. Karena selain ewuh pakewuh, mereka juga dijanjikan akan disekolahkan hingga jenjang yang lebih tinggi.
"Sampai saat ini ada 3 santri yang bersedia menjadi saksi, dan akan kami laporkan kejadian ini ke polisi. Untuk ke 16 korban, saat ini mereka sudah keluar dari pondok, karena sudah tidak tahan lagi," kata sumber yang enggan namanya ditulis, Minggu (11/1/2009).
Sementara, pencabulan itu terjadi sejak berdirinya pondok sekaligus panti asuhan, pertengahan tahun 1997 lalu. Kebejatan SH mencabuli santriwati diakui ang sumber menjadi rahasia umum di pondok tersebut. SH juga sudah berulang kali diingatkan, namun setelah berjanji akan menghentikan aksinya, tindakan itu tetap dilakukan.
"Saat itu pernah kami menempuh jalur kekeluargaan, dengan mengingatkan agar sadar. Tapi saat itu dia hanya janji, dan sampai sekarang laporan dari santriwati yang jadi korbannya terus ada," ujarnya.
Puncaknya, akhir tahun 2008 lalu sesama pengasuh melakukan hubungan badan di lingkungan pondok, meski keduanya tidak ada hubungan suami istri. Bahkan, salah seorang pengasuh lain yang berusaha melapor pemandangan yang dilihatnya, justru mendapat marah dan diancam akan dikeluarkan.
"Kami sudah tidak kuat dengan apa yang terjadi di sini. Beberapa pengasuh pondok sudah sepakat akan membawa kejadian ini ke jalur hukum," ungkap sang sumber yang mengaku juga pernah menjadi pengasuh di Ponpes RJ.
Secara terpisah Kapolres Blitar, AKBP Putu Jayan Danu Putra, saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, pihaknya sudah mendengar dugaan pencabulan yang dilakukan kiai terhadap santriwatinya.
Meski begitu, polisi mengaku belum dapat mengambil tindakan apapun, karena belum mendapatkan laporan atas dugaan tersebut. "Kalau nanti sudah ada laporan, kami akan segera menindaklanjutinya. Ini tentu akan menjadi prioritas penanganan, karena kejadian ini mengundang perhatian dari masyarakat luas," kata Putu.
Putu menjelaskan, atas informasi itu pihaknya sudah menerjunkan sejumlah personel untuk penyelidikan. "Selain menunggu laporan, kami juga melakukan penyelidikan untuk mengungkap kebenarannya," tegasnya. (fat/fat)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (7 Komentar)
Baca juga :
- Bocah Idiot Jadi Korban Nafsu Setan Dua Pria
- Takut Rahasia Terbongkar
Mahasiswi Keperawatan Rela Disetubuhi Ayah Tiri Sang Pacar - Bocah Yatim Piatu Diperkosa Pamannya, Duh..!
- Kegadisan Bunga Selamat Berkat Rasa Rindu Sang Ibu
Iklan Mini
Catering:Eco Catering sedia paket utk karyawan dan Ibu rumah tangga di SDA dan SBY dgn hrg standar.Menu terdiri dari masakan khas jawa yang dijamin keunggulan rasanya.Info dilihat di http://www.ecocatering.blogdetik.com
Catering:Kami Eco Catering menyediakan paket katering untuk karyawan perkantoran maupun ibu rumah tangga di Sidoarjo dan Surabaya dengan harga standar.Menu yang kami sediakan untuk Anda terdiri dari masakan khas jawa yang dijamin keunggulan rasanya.Informasi dapat dilihat di http://www.ecocatering.blogdetik.com
Birojasa:Privat Balita(1-5th)Pintar Calistung Hub:081553124653/031-70818303
Kursus:Kursus Mobil"Sie Bersaudara"SIM+AJ Bs Malam Avanza Xenia Kijang Panther (031)5618484/5682491
Gudang:Jual Gudang Siap Pakai Fas Lkp Ex.Kosmetik 1000m2 Kendangsari Hub:03191364750
Selengkapnya
DETIKSURABAYA.COM
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com


