Berita Lain
-
Jumat, 02/10/2009 16:31 WIB
Siswa Al Muslim Membatik di Kain Sepanjang 5 Meter -
Sabtu, 26/09/2009 18:25 WIB
Reuni, Alumni SMA Negeri 6 Serahkan Peralatan Musik -
Senin, 14/09/2009 09:17 WIB
Perkemahan Ramadan Ala SDIT Nurul Fikri -
Selasa, 08/09/2009 14:14 WIB
Siswa TKIT Nurul Fikri Membuat Kartu Lebaran -
Senin, 07/09/2009 12:40 WIB
Sambut Lebaran, Siswa TK Al Amin Membuat Kue Cokelat
Indeks Berita
Minggu, 14/12/2008 16:06 WIB
Ngobrol Fotografi Jurnalistik Bareng Pelajar dan Mahasiswa
Steven Lenakoly - detikSurabaya

Surabaya -
Perkembangan teknologi juga mempengaruhi perkembangan dalam dunia jurnalistik. Perubahan itu juga memberikan ruang yang besar bagi masyarakat untuk bisa sebagai pewarta foto atau citizen photo journalism.
Bila jaman dahulu, foto dan berita hanya didominasi oleh wartawan namun saat ini seluruh masyarakat bisa menjadi wartawan. Media massa telah menyediakan tempat bagi masyarakat.
Demikian pernyataan yang disampaikan oleh pembicara dalam "Ngobrol Sehari Perkembangan Fotografi Jurnalistik dari Zaman ke Zaman", yang digelar Komunitas Jurnalis Online Surabaya (KJOS) di kampus STIKOMP, Jalan Raya Kedung Baruk, Surabaya, Sabtu (13/12/2008).
Tiga pembicara yakni Eric "Ireng" Siswanto dari LKBN Antara, Totok J Sumarno dari SuaraSurabaya.net dan Budi Sugiharto dari detiksurabaya.com memaparkan perjalanan foto jurnalistik dari teknologi analog hingga digital dan pengaruhnya di media massa. Acara yang dipandu dosen Abdul Aziz dosen multimedia STIKOMP Surabaya ini diikuti seratusan pelajar dan mahasiswa.
"Foto kiriman pembaca tetap harus sesuai kaidah-kaidah jurnalistik. Fakta dan tidak hasil manipulasi," kata Budi Sugiharto atau akrab dipanggil Uglu itu.
Bagi Uglu, sakarang ini semua media khususnya online saling berlomba memberi ruang bagi masyarakat agar terlibat dalam reportase berita maupun foto. Selain detikcom, Kompas juga memberikan kesempatan publik sebagai reporter.
"Ini trend sekarang. Masyarakat tidak lagi menjadi obyek berita saja. Dan trend citizen journalism ternyata cukup bagus. Dari media yang memberikan ruang untuk publik, ternyata animo dari pengirim berita maupun foto cukup besar.
"Pengirimnya juga tak sedikit dari kalangan istitusi pemerintahan maupun militer. Mereka cukup aktif menyampaikan informasinya," tambah Uglu yang juga Ketua Komunitas Jurnalis Online Surabaya (KJOS) ini.
Trend Mobile Journalism
Pesatnya teknologi juga mempengaruhi prilaku media belakangan ini. Ponsel berkamera dengan resolusi tinggi serta dilengkapi flash dan fasilitas push email mulai dimanfaatkan media online sebagai pengganti kamera digital.
"Siapa sangka dahulu ponsel ada kamera dan flashnya. Sekarang bisa kan, dan media online sudah memanfaatkan itu sebagai peralatan tugasnya. Di media online majunya teknologi sudah membentuk Mobile Journalism," terangnya.
Kemajuan teknologi ini memaksa semua media untuk mengikutinya. Yang melawan bakal tersisihkan."Tidak ada yang tidak mungkin di teknologi. Sekarang hampir semua media baik tv, radio maupun cetak ikut terjun ke media online walau hanya bersifat service ke pembacanya saja," ucapnya.
Dengan ponsel sebagai senjata jurnalis media online, maka lanjut Uglu, proses pengiriman gambar dari lokasi ke redaksi menjadi semakin cepat dan mudah. "Bagi media cetak memang ponsel belum penting, tapi untuk kondisi darurat wajib diadakan," katanya.
Namun tak semua ponsel mampu menghasilkan gambar yang ciamin. "Lihat kualitas lensa dan megapixelnya. Sebaiknya diuji coba dulu sehingga mampu mendapatkan ponsel yang gambarnya cukup bagus jika dipakai media," katanya mengingatkan.
Jurnalis foto media cetak bagi Uglu saat ini selain dilengkapi kamera SLR digital juga harus disertai fasilitas pendukungnya. "Banyak kasus di lapangan yang kebetulan jauh dari kantor atau warnet, jurnalis foto dengan kamera digitalnya bingung. Mencari warnet untuk mengirim atau bahkan tidak bawa laptop," katanya.
Nah, dengan teknologi yang tak terbendung itu, kata Uglu, perusahaan wajib membekali jurnalis fotonya dengan laptop beserta modemnya. Agar sang jurnalis tersebut bisa melalukan tugasnya tanpa diwarnai kecemasan dan kebingungan.
"Jangan sampai meminjam alat teman. Tidak enak itu karena otomatis akan mengganggu kinerja yang lain," tegasnya.
Dokumentasi Jurnalis Perang
Sedangkan Totok J Sumarno lebih banyak mengulas perkembangan profesi jurnalis foto. Dia memutar dokumen milik National Geographic tentang film yang mengisahkan jurnalis yang sedang meliput di medan konflik Palestina-Israel atau jalur Gaza.
Seratusan peserta dari pelajar dan mahasiswa termangu selama film berdurasi 30 menit itu diputar. "Film ini memberikan gambaran jelas bahwa jurnalis tidak bisa memilih tempat aman ketika di medan konflik," kata Totok yang di Komunitas Jurnalis Online Surabaya (KJOS) sebagai Humas ini. Untuk lanjut Totok, jurnalis harus melakukan orientasi di medan liputan sebelumnya.
"Jadi bisa mengetahui titik aman dan tidak menjadi korban. Dan kemajuan teknologi fotografi dan peralatan akses internet membuat jurnalis lebih mudah menjalankan kerjanya," teranganya. Totok yang selama ini dikenal sebagai peliput kuliner itu mengaku cukup bangga dengan kerja jurnalis. "Kita bisa menyampaikan fakta apa adanya. Dengan foto semua kebenaran bisa terungkap," katanya.
Jurnalis juga Manusia
Sementara Eric Ireng dengan lugas menceritakan pengalamannya selama momotret konflik Aceh, Sampang, Ambalat, maupun Sampit. "Peralatan lengkap tak menjamin sepenuhnya. Namun jurnalis foto tetap harus menguasai kultur budaya lokasi setempat. Di situ harus menyesuaikan diri dalam melakuka tugasnya dan bisa diterima masyarakat,.
"Harus bisa menempatkan diri pada daerah konflik. Jangan sampai nyawa kita melayang. Jurnalis kan juga manusia," tegas Eric, jurnalis foto LKBN Antara ini yang juga Ketua Divisi Kreatif Komunitas Jurnalis Online Surabaya (KJOS).
Lulusan Stikosa ini mengakui bahwa selama malang melintas di berbagai daerah, dia merasa terbantu dengan teknologi. "Sekarang habis motret, diedit di laptop langsung dikirim melalui email. Kalau dahulu, aduhhh repot banget. Cuci film, scan belum lagi cari warnet susahnya minta ampun," kenangnya. (gik/gik)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Ngobrol Fotografi Jurnalistik Bareng Pelajar dan Mahasiswa
Steven Lenakoly - detikSurabaya

Bila jaman dahulu, foto dan berita hanya didominasi oleh wartawan namun saat ini seluruh masyarakat bisa menjadi wartawan. Media massa telah menyediakan tempat bagi masyarakat.
Demikian pernyataan yang disampaikan oleh pembicara dalam "Ngobrol Sehari Perkembangan Fotografi Jurnalistik dari Zaman ke Zaman", yang digelar Komunitas Jurnalis Online Surabaya (KJOS) di kampus STIKOMP, Jalan Raya Kedung Baruk, Surabaya, Sabtu (13/12/2008).
Tiga pembicara yakni Eric "Ireng" Siswanto dari LKBN Antara, Totok J Sumarno dari SuaraSurabaya.net dan Budi Sugiharto dari detiksurabaya.com memaparkan perjalanan foto jurnalistik dari teknologi analog hingga digital dan pengaruhnya di media massa. Acara yang dipandu dosen Abdul Aziz dosen multimedia STIKOMP Surabaya ini diikuti seratusan pelajar dan mahasiswa.
"Foto kiriman pembaca tetap harus sesuai kaidah-kaidah jurnalistik. Fakta dan tidak hasil manipulasi," kata Budi Sugiharto atau akrab dipanggil Uglu itu.
Bagi Uglu, sakarang ini semua media khususnya online saling berlomba memberi ruang bagi masyarakat agar terlibat dalam reportase berita maupun foto. Selain detikcom, Kompas juga memberikan kesempatan publik sebagai reporter.
"Ini trend sekarang. Masyarakat tidak lagi menjadi obyek berita saja. Dan trend citizen journalism ternyata cukup bagus. Dari media yang memberikan ruang untuk publik, ternyata animo dari pengirim berita maupun foto cukup besar.
"Pengirimnya juga tak sedikit dari kalangan istitusi pemerintahan maupun militer. Mereka cukup aktif menyampaikan informasinya," tambah Uglu yang juga Ketua Komunitas Jurnalis Online Surabaya (KJOS) ini.
Trend Mobile Journalism
Pesatnya teknologi juga mempengaruhi prilaku media belakangan ini. Ponsel berkamera dengan resolusi tinggi serta dilengkapi flash dan fasilitas push email mulai dimanfaatkan media online sebagai pengganti kamera digital.
"Siapa sangka dahulu ponsel ada kamera dan flashnya. Sekarang bisa kan, dan media online sudah memanfaatkan itu sebagai peralatan tugasnya. Di media online majunya teknologi sudah membentuk Mobile Journalism," terangnya.
Kemajuan teknologi ini memaksa semua media untuk mengikutinya. Yang melawan bakal tersisihkan."Tidak ada yang tidak mungkin di teknologi. Sekarang hampir semua media baik tv, radio maupun cetak ikut terjun ke media online walau hanya bersifat service ke pembacanya saja," ucapnya.
Dengan ponsel sebagai senjata jurnalis media online, maka lanjut Uglu, proses pengiriman gambar dari lokasi ke redaksi menjadi semakin cepat dan mudah. "Bagi media cetak memang ponsel belum penting, tapi untuk kondisi darurat wajib diadakan," katanya.
Namun tak semua ponsel mampu menghasilkan gambar yang ciamin. "Lihat kualitas lensa dan megapixelnya. Sebaiknya diuji coba dulu sehingga mampu mendapatkan ponsel yang gambarnya cukup bagus jika dipakai media," katanya mengingatkan.
Jurnalis foto media cetak bagi Uglu saat ini selain dilengkapi kamera SLR digital juga harus disertai fasilitas pendukungnya. "Banyak kasus di lapangan yang kebetulan jauh dari kantor atau warnet, jurnalis foto dengan kamera digitalnya bingung. Mencari warnet untuk mengirim atau bahkan tidak bawa laptop," katanya.
Nah, dengan teknologi yang tak terbendung itu, kata Uglu, perusahaan wajib membekali jurnalis fotonya dengan laptop beserta modemnya. Agar sang jurnalis tersebut bisa melalukan tugasnya tanpa diwarnai kecemasan dan kebingungan.
"Jangan sampai meminjam alat teman. Tidak enak itu karena otomatis akan mengganggu kinerja yang lain," tegasnya.
Dokumentasi Jurnalis Perang
Sedangkan Totok J Sumarno lebih banyak mengulas perkembangan profesi jurnalis foto. Dia memutar dokumen milik National Geographic tentang film yang mengisahkan jurnalis yang sedang meliput di medan konflik Palestina-Israel atau jalur Gaza.
Seratusan peserta dari pelajar dan mahasiswa termangu selama film berdurasi 30 menit itu diputar. "Film ini memberikan gambaran jelas bahwa jurnalis tidak bisa memilih tempat aman ketika di medan konflik," kata Totok yang di Komunitas Jurnalis Online Surabaya (KJOS) sebagai Humas ini. Untuk lanjut Totok, jurnalis harus melakukan orientasi di medan liputan sebelumnya.
"Jadi bisa mengetahui titik aman dan tidak menjadi korban. Dan kemajuan teknologi fotografi dan peralatan akses internet membuat jurnalis lebih mudah menjalankan kerjanya," teranganya. Totok yang selama ini dikenal sebagai peliput kuliner itu mengaku cukup bangga dengan kerja jurnalis. "Kita bisa menyampaikan fakta apa adanya. Dengan foto semua kebenaran bisa terungkap," katanya.
Jurnalis juga Manusia
Sementara Eric Ireng dengan lugas menceritakan pengalamannya selama momotret konflik Aceh, Sampang, Ambalat, maupun Sampit. "Peralatan lengkap tak menjamin sepenuhnya. Namun jurnalis foto tetap harus menguasai kultur budaya lokasi setempat. Di situ harus menyesuaikan diri dalam melakuka tugasnya dan bisa diterima masyarakat,.
"Harus bisa menempatkan diri pada daerah konflik. Jangan sampai nyawa kita melayang. Jurnalis kan juga manusia," tegas Eric, jurnalis foto LKBN Antara ini yang juga Ketua Divisi Kreatif Komunitas Jurnalis Online Surabaya (KJOS).
Lulusan Stikosa ini mengakui bahwa selama malang melintas di berbagai daerah, dia merasa terbantu dengan teknologi. "Sekarang habis motret, diedit di laptop langsung dikirim melalui email. Kalau dahulu, aduhhh repot banget. Cuci film, scan belum lagi cari warnet susahnya minta ampun," kenangnya. (gik/gik)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca juga :
- Ngobrol Fotografi Jurnalistik dari Zaman ke Zaman
- 10 Tim Cheerleader Adu Gaya
- SMANELA Buktikan Sebagai Jawara
- Inung Si Pembentot Bass
Iklan Mini
Catering:Eco Catering sedia paket utk karyawan dan Ibu rumah tangga di SDA dan SBY dgn hrg standar.Menu terdiri dari masakan khas jawa yang dijamin keunggulan rasanya.Info dilihat di http://www.ecocatering.blogdetik.com
Catering:Kami Eco Catering menyediakan paket katering untuk karyawan perkantoran maupun ibu rumah tangga di Sidoarjo dan Surabaya dengan harga standar.Menu yang kami sediakan untuk Anda terdiri dari masakan khas jawa yang dijamin keunggulan rasanya.Informasi dapat dilihat di http://www.ecocatering.blogdetik.com
Birojasa:Privat Balita(1-5th)Pintar Calistung Hub:081553124653/031-70818303
Kursus:Kursus Mobil"Sie Bersaudara"SIM+AJ Bs Malam Avanza Xenia Kijang Panther (031)5618484/5682491
Gudang:Jual Gudang Siap Pakai Fas Lkp Ex.Kosmetik 1000m2 Kendangsari Hub:03191364750
Selengkapnya
DETIKSURABAYA.COM
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com


