Berita Lain

Indeks Berita

Kamis, 30/10/2008 16:24 WIB
Sultan dan Gus Sholah Bicara Lunturnya Semangat Pemuda
Pengirim: Dian Laila - detikSurabaya



Surabaya - Lunturnya semangat pemuda dalam Peringatan Sumpah Pemuda menjadi perbincangan menarik. Terutama pemuda saat ini dibanding 80 tahun silam sangat berbeda.

Stikomp Surabaya pun memberi ruang dialog bertema: "Setiap Propinsi Wajib Dijaga Sebagai Zona Damai Nasional Dalam Masyarakat Pluralisme dan Multikulturalisme", Kamis (30/10/2008).

Dalam dialog ini hadir tokoh nasional Sri Sultan Hamengku Buwono X serta adik Gus Dur, KH Salahuddin Wahid dan penyanyi yang kerap menyuarakan suara hati rakyat yakni Franky Sahilatua.

Sri Sultan yang diminta beberapa kalangan maju menjadi Capres mengatakan semangat pluralisme dan multikulturalisme sudah terbangun dalam masyarakat jauh sebelum proses Kebangkitan Nasional dan Sumpah Pemuda.

"Jauh sebelum itu (Sumpah Pemuda) yang ada dalam masing-masing masyarakat etnik, baik sebelum atau sesudah masuknya agama sudah terbentuk sebuah kearifan-kearifan tentang pemahaman multikultural dan pluralisme" terang Sri Sultan.

Malah Raja Kesultanan Yogyakarta ini mengaku setelah reformasi-lah pemahaman tentang persatuan dalam masyarakat yang pluralisme dan multikulturalisme ini malah terkikis.

Menurut alumnus Fakultas Hukum UGM ini, lunturnya semangat tersebut tak lepas dari kesalahan pemerintah sebelumnya. Tidak berhasil membangun nilai-nilai kearifan dalam semangat pluralisme dan multikulturalisme pada masyarakat kita yang multi etnis.

Senada dengan Sri Sultan, Gus Sholah (panggilan akrab Salahuddin Wahid) juga setuju bahwasannya lunturnya semangat pluralisme dan multikulturalisme di tengah masyarakat juga tak lepas dari kekeliruan pemahaman yang selama ini ada terlebih pada pemahaman keberagamaan.

Menurut tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia ini, sebenarnya kesenjangan yang ada pada etnis, agama dan keberagaman budaya di Indonesia tidak perlu menjadi persoalan. Malah yang terpenting dan harus mendapat perhatian serius adalah perbedaan yang menyebabkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

"Kesenjangan inilah yang saat ini semakin menganga di Indonesia," urai Gus Sholah.

Nah untuk membangun sebuah kebersamaan itulah jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin, menurut Kyai kelahiran Jombang, 66 tahun yang lalu itu harus dipersempit. "Dan itulah yang salah satunya harus diupayakan oleh pemerintah," ujar Gus Sholah. (fat/fat)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Baca juga :

Iklan Mini

Mobil:GRAND Civic'90 Matic Htm Istw Mls(L)AC/PW/PS/TP Hub:03160552600/081703163030
Biro Jasa:"AHLINYA CUCI"Sofa,Spring Bed,Karpet,K.Kantor,Poles Lantai Marmer 03170577988
HP:Genteng Besar18 03192205799bks99% semua Lengkap N97Npc X 1bl(52)E66G/N95.8Gb(22)E90G(39) atom(12)9300Npc(9)5800G(24)N95(19)N81 2Gb(14)N81.8Gb(16)C6625G(17)Storm G(35)
Mobil:Honda City Z VTEC MT 2001 Biru Met Msn Hls Ondstl Prima Int Rapi Tlp:71281188
Komputer:ALL SERVICE PC,Mon,Print,Laptop Infus Ready P3/P4 TT/Kredit H:0315910356 Datang

Selengkapnya

DETIKSURABAYA.COM
Jl. Jimerto 17 A Surabaya

Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465

Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com