Forum Surabaya
- Gath yuk...... josephkosin
- Yang Suka Ke TP ... Mampi... erwin_pikko
- Alun-alun sidoarjo... Rizky
- Royal Plaza... Rizky
- Cafe Atoz... Rizky
- Lapangan Kodam Brawijaya... delila
Berita Lain
-
Rabu, 18/11/2009 09:53 WIB
Pulang ke Rumah, Pasutri Diseruduk Truk -
Senin, 16/11/2009 16:40 WIB
Polda Gelar Sosialisasi UU Lalu Lintas -
Jumat, 13/11/2009 14:08 WIB
Arif Afandi Pilih Bekerja Daripada Harus Gegeran -
Kamis, 12/11/2009 16:18 WIB
AA Sindikasi Banjir Permintaan Atribut Kampanye Arif Afandi -
Kamis, 12/11/2009 16:08 WIB
KSAL Resmikan Kesatrian Marinir Moekijat
Indeks Berita
Selasa, 29/07/2008 08:34 WIB
"Ada Apa Dengan Pembangunan Infrastruktur?"
Gilang Permana - detikSurabaya

Surabaya -
Program Diploma Teknik Sipil FTSP-ITS menggelar seminar nasional "Aplikasi Teknologi Prasarana Perkotaan 2008". Kegiatan tersebut alan diselenggarakan pada Kamis, 31 Juli 2008 bertempat di Ruang Sidang Diploma Teknik Sipil FTSP-ITS, Manyar Surabaya.
Seminar itu menghadirkan pembicara utama (keynote speaker) Prof.DR.Ir. Mohammad Nuh, DEA (Menteri Komunikasi & Informatika RI) yang akan mengulas "Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pembangunan Infrasturktur".
Sedangkan pembicara lainnya adalah dr. Fasli Jalal, PhD, Direktur Jenderal Dikti RI dengan mengangkat isu "Relevansi Pendidikan Professional dengan Pembangunan Infrastruktur".
Serta Ir. M. Saiful Imam, MM. (Mantan Direktur Utama PT. Adhikarya, Tbk.) akan membedah "Inovasi Birokrasi dalam Mendorong Percepatan Pembangunan infrastruktur". Dan tak ketinggalan Ir. Tri Rismaharini, MT (Kepala Bappeko Surabaya) akan mengangat dan membedah masalah perkotaan dengan tema "Pengembangan Infrastruktur Kota Surabaya: Antara Problem dan Solusi".
Pembicara kelima adalah Ir. Agung Budipryanto, MEng. PhD. dari Program Diploma Teknik Sipil FTSP ITS. Agung akan mengulas materi bertema "Identifikasi Kerusakan Bangunan Infrastruktur Berbasis Response Getaran".
Seminar nasional ini kata Ketua Panitia, Machsus, ST.MT, merupakan pertemuan ilmiah tahunan yang diselenggarakan tiap bulan juli. Sesuai dengan temanya, maka pada seminar nasional kali ini difokuskan pada pembahasan tentang aplikasi teknologi dalam menunjang pembangunan infrastruktur. Melalui kegiatan ini diharapkan disiplin ilmu keteknisipilan dan bidang ilmu yang terkait dapat dikembangkan, sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi pemecahan permasalahan pembangunan infrastruktur.
"Pembangunan infrastruktur sangat penting, mengingat dalam realitas kehidupan keseharian, kita tidak dapat terlepas dari kebutuhan tersedianya infrastruktur yang memadai. Ketersediaan berbagai jenis infrastruktur publik diharapkan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan rakyat dari hari ke hari makin meningkat," katanya, Selasa (29/7/2008).
Sebagaimana kita ketahui kata dia bahwa infrastruktur sesungguhnya berkaitan erat dengan kebutuhan hajat hidup orang banyak. Pembangunan sarana dan prasarana transportasi, pengadaan perumahan dan pemukiman penduduk serta ketersedian air merupakan salah satu contoh infrastruktur publik yang keberadaannya sangat diperlukan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Ketersediaan infrastruktur juga merupakan salah satu points yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa dalam MDGs (Milenium Development Goals). Dengan demikian pembangunan infrastruktur menjadi kewajiban semua negara di dunia untuk mencapai MDGs pada tahun 2015. Dalam penyediaan infrastruktur tentunya perlu disesuaikan dengan perkembangan lingkungan ekternal yang semakin cepat, salah satunya di bidang teknologi informasi dan komunikasi.
Perkembangan teknologi informasi ini kata dia merupakan indikator yang memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia hari ini sudah mulai memasuki era masyarakat infromasi dan sekaligus masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society), seperti yang diramalkan oleh Alvin Toffler (1991) tentang tiga gelombang perubahan besar.
Pada kondisi ini masyarakat yang semakin menyadari kegunaan dan manfaat informasi, serta memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengakses, memanfaatkan dan menjadikan informasi sebagai nilai tambah (added value) dalam peningkatan kualitas kehidupan. Keandalan teknologi informasi di hampir seluruh akses kehidupan manusia menjadikan teknologi sebagai sumber bagi munculnya peradaban baru (new second life section). Singkatnya, tidak ada satu pun bidang kehidupan bangsa ataupun sektor pembangunan nasional yang tidak memerlukan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi informasi dalam pembangunan infrastruktur menjadi suatu keniscayaan.
Ketika Indonesia mengalami krisis sepuluh tahun yang lalu, karena kesulitan finansial secara nasional, tidak banyak infrastruktur yang dibangun. Bahkan, banyak infrastruktur yang kurang terpelihara dengan baik. Hal ini disebabkan karena anggaran yang ada harus diprioritaskan untuk mengatasi krisis. Namun, ketika Indonesia sudah mulai pulih dari krisis, dengan indikator makro ekonomi mulai membaik, maka sudah seharusnya pemerintah, kembali mengalokasikan anggaran untuk membangun kembali infrastruktur di seluruh tanah air.
Dalam konteks inilah, paradigma dan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) perlu dijadikan pijakan agar ketersediaan infrastruktur publik itu benar-benar bisa memberikan kontribusi positif bagi masa depan perekonomian nasional. Sayangnya, yang terjadi bukannya pembangunan berkelanjutan melainkan justru problemnya yang berkelanjutan. Jadi, bukannya sustainable development melainkan sustainable problem.
Keberhasilan pembangunan seringkali diukur dengan banyaknya ketersediaan infrastruktur yang benar-benar bermanfaat bagi kepentingan rakyat. Rakyat memerlukan jalan yang mulus, bukan jalan yang penuh lubang. Jembatan yang kokoh, bukan jembatan yang sudah miring. Irigasi yang dapat mengatur penyaluran air, bendungan yang memadai serta berbagai infrastruktur lainnya, baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Salah satu elemen penting dalam menjaga kelangsungan pembangunan infrastruktur, adalah jasa konstruksi. Jasa konstruksi merupakan tulang punggung bagi pembangunan infrastruktur. Jasa konstruksi, mampu memberikan kontribusi sekitar 6% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB), dan menyerap tenaga kerja sekitar 5% dari angkatan kerja pada tahun 2005. Untuk diketahui krisis angka pengangguran di negeri kita masih tergolong tinggi, tahun 2006 pengangguran terbuka berjumlah 11 juta, tahun 2007, akhir tahun turun menjadi 10 juta, makin baik tapi tetap tinggi. Sedangkan tiap tahun ada angkatan kerja baru (new comer) yang mencari pekerjaan sebesar 1,5 juta manusia.
Implementasi pembangunan infrastruktur, termasuk pada bidang jasa konstruksi tidak jarang mengalami tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Model pembangunan infrastruktur semacam ini bukannya memberikan solusi yang dapat memperlancar aktifitas manusia, melainkan justru melahirkan sederet problem-problem baru. Problem yang muncul akan menjadi lebih krusial lagi bila sifatnya berkelanjutan. Bidang transportasi merupakan salah satu contoh implementasi model pembangunan seperti ini.
Pada bidang transportasi, hadirnya sarana transportasi awalnya memang dirasakan betul manfaatnya dalam memperlancar angkutan manusia dan barang dari suatu tempat ke tempat lainnya.
Namun, ketika pengadaan berbagai jenis sarana angkutan mulai melimpah, karena bisnis ini memang sangat prospektif, ternyata justru melahirkan problem krisis energi, kemacetan lalu lintas dan peningkatan polusi udara di perkotaan, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.
Krisis energi akan menjadi persoalan serius bagi bangsa kita pada tahun-tahun mendatang. Persediaan minyak kita akan semakin berkurang, sementara permintaannya makin bertambah, baik untuk rumah tangga, untuk komersial, untuk listrik, untuk industri maupun untuk angkutan.
"Padahal minyak kita kalau tidak ada penemuan baru tinggal 18 tahun, gas kita kalau tidak ada penemuan baru tinggal 60 tahun lagi, batubara kita, lebih panjang sedikit, tetapi akan habis dalam waktu 150 tahun," katanya. Sedangkan penggunaan energi akan terus menerus bertambah. Lantas, bagaimana bagaimana kita bisa menyiapkan energi untuk kebutuhan hidup 220 juta warga negara Indonesia, yang diperkirakan dalam waktu 10 tahun mendatang akan bertambah lebih besar lagi, mendekati 250 bahkan 300 juta.
Problem kemacetan lalu lintas di kota metropolitan seakan menjadi masalah yang tanpa ujung hingga hari ini. Sebab, berbagai upaya pemecahan yang telah dilakukan tidak membuah hasil yang menggembirakan, meskipun tentu juga tidak bisa dibilang sia-sia. Contohnya, di Jakarta dioperasikan busway dan kawasan pembatasan penumpang (KPP) atau three in one, sedangkan di Surabaya dioperasikan kereta api (KA) komuter. Rencana penerapan jenis MRT (mass rapit transit) berbasis air, yang dikenal busair dan BRT (Bus rapid transit) di Surabaya diperkirakan juga tidak memberikan jaminan kota pahlawan ini terbebas dari kemacetan.
Lantas, adakah gagasan ini mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan transportasi berkelanjutan di Surabaya?
Disisi lain, dalam tiga tahun terakhir ini, pemerintah telah menaikkan alokasi anggaran pembangunan infrastruktur dibidang transportasi. Alokasi anggaran transportasi telah meningkat dari Rp 8,5 triliun tahun 2006 menjadi Rp 11, 2 triliun tahun 2007 atau naik 31,76%. Pada tahun 2008, kembali kita alokasikan dana yang cukup besar, sebesar Rp 16,7 triliun atau meningkat 49,11% dari tahun 2007. Jadi, apabila dibandingkan dengan pertumbuhan dari tahun 2006 sampai 2008 ini telah terjadi peningkatan sebesar 96,47%, satu prosentase kenaikan yang cukup dramatis.
Persoalan selanjutnya adalah bagaimana agar realisasi pembangunan transportasi dapat meningkatkan pelayanan jasa transportasi secara efisien, andal, berkualitas, aman, dan dengan harga yang terjangkau. Hal ini penting, mengingat sektor transportasi memiliki peran signifikan dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di seluruh tanah air. Jelasnya, keterlambatan pembangunan di sektor transportasi akan berakibat terganggunya upaya pembangunan di sektor perekonomian yang pada gilirannya juga memperlambat upaya peningkatkan kesejahteraan rakyat.
(gik/gik)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
"Ada Apa Dengan Pembangunan Infrastruktur?"
Gilang Permana - detikSurabaya

Seminar itu menghadirkan pembicara utama (keynote speaker) Prof.DR.Ir. Mohammad Nuh, DEA (Menteri Komunikasi & Informatika RI) yang akan mengulas "Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pembangunan Infrasturktur".
Sedangkan pembicara lainnya adalah dr. Fasli Jalal, PhD, Direktur Jenderal Dikti RI dengan mengangkat isu "Relevansi Pendidikan Professional dengan Pembangunan Infrastruktur".
Serta Ir. M. Saiful Imam, MM. (Mantan Direktur Utama PT. Adhikarya, Tbk.) akan membedah "Inovasi Birokrasi dalam Mendorong Percepatan Pembangunan infrastruktur". Dan tak ketinggalan Ir. Tri Rismaharini, MT (Kepala Bappeko Surabaya) akan mengangat dan membedah masalah perkotaan dengan tema "Pengembangan Infrastruktur Kota Surabaya: Antara Problem dan Solusi".
Pembicara kelima adalah Ir. Agung Budipryanto, MEng. PhD. dari Program Diploma Teknik Sipil FTSP ITS. Agung akan mengulas materi bertema "Identifikasi Kerusakan Bangunan Infrastruktur Berbasis Response Getaran".
Seminar nasional ini kata Ketua Panitia, Machsus, ST.MT, merupakan pertemuan ilmiah tahunan yang diselenggarakan tiap bulan juli. Sesuai dengan temanya, maka pada seminar nasional kali ini difokuskan pada pembahasan tentang aplikasi teknologi dalam menunjang pembangunan infrastruktur. Melalui kegiatan ini diharapkan disiplin ilmu keteknisipilan dan bidang ilmu yang terkait dapat dikembangkan, sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi pemecahan permasalahan pembangunan infrastruktur.
"Pembangunan infrastruktur sangat penting, mengingat dalam realitas kehidupan keseharian, kita tidak dapat terlepas dari kebutuhan tersedianya infrastruktur yang memadai. Ketersediaan berbagai jenis infrastruktur publik diharapkan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan rakyat dari hari ke hari makin meningkat," katanya, Selasa (29/7/2008).
Sebagaimana kita ketahui kata dia bahwa infrastruktur sesungguhnya berkaitan erat dengan kebutuhan hajat hidup orang banyak. Pembangunan sarana dan prasarana transportasi, pengadaan perumahan dan pemukiman penduduk serta ketersedian air merupakan salah satu contoh infrastruktur publik yang keberadaannya sangat diperlukan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Ketersediaan infrastruktur juga merupakan salah satu points yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa dalam MDGs (Milenium Development Goals). Dengan demikian pembangunan infrastruktur menjadi kewajiban semua negara di dunia untuk mencapai MDGs pada tahun 2015. Dalam penyediaan infrastruktur tentunya perlu disesuaikan dengan perkembangan lingkungan ekternal yang semakin cepat, salah satunya di bidang teknologi informasi dan komunikasi.
Perkembangan teknologi informasi ini kata dia merupakan indikator yang memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia hari ini sudah mulai memasuki era masyarakat infromasi dan sekaligus masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society), seperti yang diramalkan oleh Alvin Toffler (1991) tentang tiga gelombang perubahan besar.
Pada kondisi ini masyarakat yang semakin menyadari kegunaan dan manfaat informasi, serta memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengakses, memanfaatkan dan menjadikan informasi sebagai nilai tambah (added value) dalam peningkatan kualitas kehidupan. Keandalan teknologi informasi di hampir seluruh akses kehidupan manusia menjadikan teknologi sebagai sumber bagi munculnya peradaban baru (new second life section). Singkatnya, tidak ada satu pun bidang kehidupan bangsa ataupun sektor pembangunan nasional yang tidak memerlukan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi informasi dalam pembangunan infrastruktur menjadi suatu keniscayaan.
Ketika Indonesia mengalami krisis sepuluh tahun yang lalu, karena kesulitan finansial secara nasional, tidak banyak infrastruktur yang dibangun. Bahkan, banyak infrastruktur yang kurang terpelihara dengan baik. Hal ini disebabkan karena anggaran yang ada harus diprioritaskan untuk mengatasi krisis. Namun, ketika Indonesia sudah mulai pulih dari krisis, dengan indikator makro ekonomi mulai membaik, maka sudah seharusnya pemerintah, kembali mengalokasikan anggaran untuk membangun kembali infrastruktur di seluruh tanah air.
Dalam konteks inilah, paradigma dan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) perlu dijadikan pijakan agar ketersediaan infrastruktur publik itu benar-benar bisa memberikan kontribusi positif bagi masa depan perekonomian nasional. Sayangnya, yang terjadi bukannya pembangunan berkelanjutan melainkan justru problemnya yang berkelanjutan. Jadi, bukannya sustainable development melainkan sustainable problem.
Keberhasilan pembangunan seringkali diukur dengan banyaknya ketersediaan infrastruktur yang benar-benar bermanfaat bagi kepentingan rakyat. Rakyat memerlukan jalan yang mulus, bukan jalan yang penuh lubang. Jembatan yang kokoh, bukan jembatan yang sudah miring. Irigasi yang dapat mengatur penyaluran air, bendungan yang memadai serta berbagai infrastruktur lainnya, baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Salah satu elemen penting dalam menjaga kelangsungan pembangunan infrastruktur, adalah jasa konstruksi. Jasa konstruksi merupakan tulang punggung bagi pembangunan infrastruktur. Jasa konstruksi, mampu memberikan kontribusi sekitar 6% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB), dan menyerap tenaga kerja sekitar 5% dari angkatan kerja pada tahun 2005. Untuk diketahui krisis angka pengangguran di negeri kita masih tergolong tinggi, tahun 2006 pengangguran terbuka berjumlah 11 juta, tahun 2007, akhir tahun turun menjadi 10 juta, makin baik tapi tetap tinggi. Sedangkan tiap tahun ada angkatan kerja baru (new comer) yang mencari pekerjaan sebesar 1,5 juta manusia.
Implementasi pembangunan infrastruktur, termasuk pada bidang jasa konstruksi tidak jarang mengalami tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Model pembangunan infrastruktur semacam ini bukannya memberikan solusi yang dapat memperlancar aktifitas manusia, melainkan justru melahirkan sederet problem-problem baru. Problem yang muncul akan menjadi lebih krusial lagi bila sifatnya berkelanjutan. Bidang transportasi merupakan salah satu contoh implementasi model pembangunan seperti ini.
Pada bidang transportasi, hadirnya sarana transportasi awalnya memang dirasakan betul manfaatnya dalam memperlancar angkutan manusia dan barang dari suatu tempat ke tempat lainnya.
Namun, ketika pengadaan berbagai jenis sarana angkutan mulai melimpah, karena bisnis ini memang sangat prospektif, ternyata justru melahirkan problem krisis energi, kemacetan lalu lintas dan peningkatan polusi udara di perkotaan, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.
Krisis energi akan menjadi persoalan serius bagi bangsa kita pada tahun-tahun mendatang. Persediaan minyak kita akan semakin berkurang, sementara permintaannya makin bertambah, baik untuk rumah tangga, untuk komersial, untuk listrik, untuk industri maupun untuk angkutan.
"Padahal minyak kita kalau tidak ada penemuan baru tinggal 18 tahun, gas kita kalau tidak ada penemuan baru tinggal 60 tahun lagi, batubara kita, lebih panjang sedikit, tetapi akan habis dalam waktu 150 tahun," katanya. Sedangkan penggunaan energi akan terus menerus bertambah. Lantas, bagaimana bagaimana kita bisa menyiapkan energi untuk kebutuhan hidup 220 juta warga negara Indonesia, yang diperkirakan dalam waktu 10 tahun mendatang akan bertambah lebih besar lagi, mendekati 250 bahkan 300 juta.
Problem kemacetan lalu lintas di kota metropolitan seakan menjadi masalah yang tanpa ujung hingga hari ini. Sebab, berbagai upaya pemecahan yang telah dilakukan tidak membuah hasil yang menggembirakan, meskipun tentu juga tidak bisa dibilang sia-sia. Contohnya, di Jakarta dioperasikan busway dan kawasan pembatasan penumpang (KPP) atau three in one, sedangkan di Surabaya dioperasikan kereta api (KA) komuter. Rencana penerapan jenis MRT (mass rapit transit) berbasis air, yang dikenal busair dan BRT (Bus rapid transit) di Surabaya diperkirakan juga tidak memberikan jaminan kota pahlawan ini terbebas dari kemacetan.
Lantas, adakah gagasan ini mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan transportasi berkelanjutan di Surabaya?
Disisi lain, dalam tiga tahun terakhir ini, pemerintah telah menaikkan alokasi anggaran pembangunan infrastruktur dibidang transportasi. Alokasi anggaran transportasi telah meningkat dari Rp 8,5 triliun tahun 2006 menjadi Rp 11, 2 triliun tahun 2007 atau naik 31,76%. Pada tahun 2008, kembali kita alokasikan dana yang cukup besar, sebesar Rp 16,7 triliun atau meningkat 49,11% dari tahun 2007. Jadi, apabila dibandingkan dengan pertumbuhan dari tahun 2006 sampai 2008 ini telah terjadi peningkatan sebesar 96,47%, satu prosentase kenaikan yang cukup dramatis.
Persoalan selanjutnya adalah bagaimana agar realisasi pembangunan transportasi dapat meningkatkan pelayanan jasa transportasi secara efisien, andal, berkualitas, aman, dan dengan harga yang terjangkau. Hal ini penting, mengingat sektor transportasi memiliki peran signifikan dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di seluruh tanah air. Jelasnya, keterlambatan pembangunan di sektor transportasi akan berakibat terganggunya upaya pembangunan di sektor perekonomian yang pada gilirannya juga memperlambat upaya peningkatkan kesejahteraan rakyat.
(gik/gik)
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca juga :
Iklan Mini
Lowongan:DCR Karyawati Dibid.Fashion Dom.Ps.Atum Krm Lmr Ps.Atum ThpI Lt1-1165T H:0315025718
DNA:DNA Genteng Besar18 03170973237newGemini/5800/6300?bks99%e90fs(35)bb8900bsbfs(32/28)n86gX2mg(37)omnia/e71gbsb(25)e51(13)n95/n81/5610/6500c/s/s8300/BB8310/BB8700
Makanan:Angela Salad Buah Istimewa dan Pastel Goreng Istimewa Buktikan T.(031)5996429/77803380
Motor:V-IXION'09 TGN.I ABU2 SPT BARU (19jt) Rungkut Kidul Raya 22 T.081330040500 nego
AC:FRESH COOL Pusatnya Service AC Cleaning3Gratis1(25rb)Freon(75rb)Bgkr+Psg(100) Terjamin+Bergaransi+Puas T.0318720699
Selengkapnya
DETIKSURABAYA.COM
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com
Jl. Jimerto 17 A Surabaya
Redaksi:
Email : redaksi[at]detiksurabaya.com
Telp/ Fax: 031 547 4465
Iklan & Promosi:
Telepon : 031 546 0475 | Faks : 031 547 4465
Email : iklan[at]detiksurabaya.com, event[at]detiksurabaya.com




